h1

URBANISASI PASCA LEBARAN

November 6, 2009


Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota. Urbanisasi adalah masalah yang cukup serius bagi kita semua. Persebaran penduduk yang tidak merata antara desa dengan kota akan menimbulkan berbagai permasalahan kehidupan sosial kemasyarakatan. Jumlah peningkatan penduduk kota yang signifikan tanpa didukung dan diimbangi dengan jumlah lapangan pekerjaan, fasilitas umum, aparat penegak hukum, perumahan, penyediaan pangan, dan lain sebagainya tentu adalah suatu masalah yang harus segera dicarikan jalan keluarnya.

  • LATAR BELAKANG

Untuk mendapatkan suatu niat pergi ke kota dari desa, seseorang biasanya harus mendapatkan pengaruh yang kuat dalam bentuk ajakan, informasi media massa, impian pribadi, terdesak kebutuhan ekonomi, dan lain sebagainya. Pengaruh-pengaruh tersebut bisa dalam bentuk sesuatu yang mendorong, memaksa atau faktor pendorong seseorang untuk urbanisasi, maupun dalam bentuk yang menarik perhatian atau faktor penarik. Di bawah ini adalah beberapa atau sebagian contoh yang pada dasarnya dapat menggerakkan seseorang untuk melakukan urbanisasi perpindahan dari pedesaaan ke perkotaan.

  • Faktor Penarik Terjadinya Urbanisasi

Kehidupan kota yang lebih modern dan mewah, sarana dan prasarana kota yang lebih lengkap, banyak lapangan pekerjaan di kota, pengaruh buruk sinetron Indonesia, pendidikan sekolah dan perguruan tinggi jauh lebih baik dan berkualitas.

  • Faktor Pendorong Terjadinya Urbanisasi

Lahan pertanian yang semakin sempit, merasa tidak cocok dengan budaya tempat asalnya, menganggur karena tidak banyak lapangan pekerjaan di desa, terbatasnya sarana dan prasarana di desa, diusir dari desa asal, memiliki impian kuat menjadi orang kaya

Dengan latar belakang tersebut maka orang desa akan lebih mudah terpengaruh untuk pergi ke kota dan mengadu nasib disana.

  • TUJUAN

Manusia sebagai makhluk sosial tidak lepas dari sesamanya. Dalam hal ini masyarakat dibedakan menjadi masyarakat perkotaan dan masyarakat pedesaan. Antara masyarakat pedesaan dan perkotaan terdapat hubungan yang erat, ada saling membutuhkan, artinya Desa dapat memenuhi kebutuhan kita akan berbahan-bahan pangan dan tenaga dan tenaga kasar. Sedangkan kota menghasilkan barang-barang dan pelayanan di bidang jasa dan dibutuhkan di desa, di samping itu kota merupakan tempat penampungan tenaga kerja yang tidak terserap lagi oleh lapangan kerja yang tersedia di pedesaan. Oleh karena itu mereka pergi ke kota untuk memenuhi kehidupan mereka dan mereka juga mungkin beranggapan jika hidup di kota maka kehidupannya akan membaik. Tetapi tujuan mereka tidak akan semudah seperti yang mereka pikirkan karena kehidupan di kota sangat keras jika tidak mampu bersaing maka mereka akan tertinggal dengan yang lain.

  • SASARAN

Sasaran Urbanisasi bagi para pemudik adalah kota-kota besar seperti ibu kota. Contohnya adalah kota jakarta, karena pemikiran mereka disanalah terdapat banyak pekerjaan dan kesempatan yang dapat dimanfaatkan. Tempat yang memiliki banyak industri juga sering di datangi oleh orang yang datang dari desa. Jadi pusat industri dan pusat pemerintahan sangat sering menjadi sasaran urbanisasi karena pasti mereka sangat membutuhkan tenaga kerja, dan kota dapat menjadi penyerap tenaga kerja yang cukup untuk para pengangguran. Banyak peluang yang bisa di dapatkan di kota, asalkan kita rajin, tekun dan mempunyai modal yang cukup untuk dapat bersaing dengan yang lain.

  • Permasalahan

Akibat dari meningkatnya proses urbanisasi menimbulkan dampak-dampak terhadap lingkungan kota, baik dari segi tata kota, masyarakat, maupun keadaan sekitarnya. Dampak urbanisasi terhadap lingkungan kota antara lain:

1. Semakin minimnya lahan kosong di daerah perkotaan

Pertambahan penduduk kota yang begitu pesat, sudah sulit diikuti kemampuan daya dukung kotanya. Saat ini, lahan kosong di daerah perkotaan sangat jarang ditemui. ruang untuk tempat tinggal, ruang untuk kelancaran lalu lintas kendaraan, dan tempat parkir sudah sangat minim. Bahkan, lahan untuk Ruang Terbuka Hijau (RTH) pun sudah tidak ada lagi. Lahan kosong yang terdapat di daerah perkotaan telah banyak dimanfaatkan oleh para urban sebagai lahan pemukiman, perdagangan, dan perindustrian yang legal maupun ilegal. Bangunan-bangunan yang didirikan untuk perdagangan maupun perindustrian umumnya dimiliki oleh warga pendatang. Selain itu, para urban yang tidak memiliki tempat tinggal biasanya menggunakan lahan kosong sebagai pemukiman liar mereka. hal ini menyebabkan semakin minimnya lahan kosong di daerah perkotaan.

2. Menambah polusi di daerah perkotaan

Masyarakat yang melakukan urbanisasi baik dengan tujuan mencari pekerjaan maupun untuk memperoleh pendidikan, umumnya memiliki kendaraan. Pertambahan kendaraan bermotor roda dua dan roda empat yang membanjiri kota yang terus menerus, menimbulkan berbagai polusi atau pemcemaran seperti polusi udara dan kebisingan atau polusi suara bagi telinga manusia.

3. Penyebab bencana alam

Para urban yang tidak memiliki pekerjaan dan tempat tinggal biasanya menggunakan lahan kosong di pusat kota maupun di daerah pinggiran Daerah Aliran Sungai (DAS) untuk mendirikan bangunan liar baik untuk pemukiman maupun lahan berdagang mereka. Hal ini tentunya akan membuat lingkungan tersebut yang seharusnya bermanfaat untuk menyerap air hujan justru menjadi penyebab terjadinya banjir. Daerah Aliran Sungai sudah tidak bisa menampung air hujan lagi.

4. Pencemaran yang bersifat sosial dan ekonomi

Kepergian penduduk desa ke kota untuk mengadu nasib tidaklah menjadi masalah apabila masyarakat mempunyai keterampilan tertentu yang dibutuhkan di kota. Namun, kenyataanya banyak diantara mereka yang datang ke kota tanpa memiliki keterampilan kecuali bertani. Oleh karena itu, sulit bagi mereka untuk memperoleh pekerjaan yang layak. Mereka terpaksa bekerja sebagai buruh harian, penjaga malam, pembantu rumah tangga, tukang becak, dan pekerjaan lain yang sejenis. Bahkan,masyarakat yang gagal memperoleh pekerjaan sejenis itu menjadi tunakarya, tunawisma, dan tunasusila.

5. Penyebab kemacetan lalu lintas

Padatnya penduduk di kota menyebabkan kemacetan dimana-mana, ditambah lagi arus urbanisasi yang makin bertambah. Para urban yang tidak memiliki tempat tinggal maupun pekerjaan banyak mendirikan pemukiman liar di sekitar jalan, sehingga kota yang awalnya sudah macet bertambah macet. Selain itu tidak sedikit para urban memiliki kendaraan sehingga menambah volum kendaraan di setiap ruas jalan di kota.

Analisis SWOT

Analisa SWOT adalah sebuah bentuk analisa situasi dan kondisi yang bersifat deskriptif. Analisa ini menempatkan situasi dan kondisi sebagai sebagai faktor masukan, yang kemudian dikelompokkan menurut kontribusinya masing-masing.

Analisa ini terbagi atas empat komponen dasar yaitu :

1. S = Strength (kekuatan), adalah situasi atau kondisi yang merupakan kekuatan dari organisasi atau program pada saat ini.

  • Urbanisasi dapat menimbulkan pertumbuhan perekonomian di kota baik dari mulai dari perekonomian di tingkat kecil, menengah maupun atas. Dengan meningkatnya pertumbuhan perekonomian maka pendapatan kota tersebut juga akan bertambah dan akan lebih menguntungkan.
  • Urbanisasi juga dapat mempunyai manfaat yang positif yaitu apabila para pendatang mempunyai kemampuan yang sesuai dengan tenaga ahli yang dibutuhkan pada lapangan kerja. Sehingga posisi pada tempat kerja tersebut segera dapat terpenuhi dan kegiatan perusahaan dapat berjalan lancar.
  • Penyebaran penduduk yang teratur juga dapat menimbulkan pertumbuhan ekonomi yang cepat sehingga perkembangan ekonomi dapat seimbang.

2. W = Weakness (kelemahan),adalah situasi atau kondisi yang merupakan kelemahan dari organisasi atau program pada saat ini.

  • Masalah urbanisasi belum memiliki peraturan yang jelas sehingga pertumbuhan urbanisasi terus meningkat tanpa terkendali
  • Urbanisasi yang berlebihan tanpa terkendali akan menimbulkan banyak masalah bagi kota dan penduduknya
  • Penduduk yang tidak memiliki kemampuan dan tidak dapat bersaing maka mereka akan tertinggal sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.
  • Angka pengangguran yang terus bertambah karena semakin banyaknya pendatang yang masuk jika tidak bekerja.
  • Pengontrolan dan pengawasan yang kurang sehingga mengakibatkan penyebaran penduduk tidak merata.

3. O = Opportunity (kesempatan), adalah situasi atau kondisi yang merupakan peluang di luar organisasi dan memberikan peluang berkembang bagi organisasi di masa depan.

  • Peluang untuk melakukan usaha di kota sangat luas serta persaingan yang luas dan ketat.
  • Dapat mengisi posisi yang dibutuhkan sehingga mengurangi tingkat pengangguran yang semakin meningkat.
  • Mempunyai peluang untuk merubah kehidupan menjadi lebih baik karena kesempatan yang mereka ambil mungkin dapat bermafaat dan lebih menguntungkan dari pada hidup di desa.

4. T =Threat (ancaman), adalah situasi yang merupakan ancaman bagi organisasi yang datang dari luar organisasi dan dapat mengancam eksistensi organisasi di masa depan

  • Padatnya kota-kota besar seperti ibu kota menyebabkan tidak terkontrolnya pertumbuhan penduduk di kota tersebut dan akan menimbulkan banyak masalah.
  • Meningkatnya pengangguran dan kemiskinan yang mengakibatkan penyebab bertambahnya angka kriminalitas karena mereka harus bertahan hidup ditengah-tengah kerasnya kehidupan kota.
  • Gelandangan dan pengemis juga bertambah jika mereka tidak mendapat pekerjaan yang sesuai.
  • Banyaknya yang tidak mendapatkan tempat tinggal sehingga penduduk dengan terpaksa tinggal di sembarang tempat sehingga terciptanya lingkungan kumuh yang tidak teratur

  • SOLUSI

Dalam mencari solusi permasalahan urbanisasi dapat dilakukan beberapa cara diantaranya sebagai berikut :

  • menyeimbangkan pembangunan antara desa dan kota. Keseimbangan pembangunan itu bisa dicapai jika ada komitmen untuk melakukan pembangunan hampir semua sektor di pedesaan, seperti industri dan jasa. Selain itu, pemerintah perlu menata aktifitas sektor agraria, memberdayakan masyarakat pedesaan dan membangun infrastruktur pedesaan. Setelah itu jangan sampai ada kesenjangan penghasilan yang tinggi antara desa dan kota. Bayangkan saja, dengan menjadi pemulung, tukang semir sepatu, tukang parkir atau pengumpul barang bekas di Ibukota Jakarta atau di Surabaya, kaum migran memperoleh pendapatan sebesar dua hingga tiga kali lipat dibandingkan penghasilannya di desa. Dengan adanya kesenjangan pendapatan itu, maka pilihan untuk berurbanisasi adalah hal yang rasional secara ekonomis bagi mereka.
  • mengembangkan kota-kota kecil di daerah sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru. Cara ini kini mendapat respons positif dari berbagai negara dan menjadi bahan kajian dari badan kependudukan dunia dalam rangka membangun kemajuan suatu bangsa atau negara. Kajian itu didasarkan atas pemikiran bahwa urbanisasi merupakan salah satu wujud modernisasi sehingga perlu dikelola secara baik.
  • Dengan cara mensosialisasikan dan ikut menyukseskan kebijakan pemerintah. Apalagi kini ruang aspirasi desa sudah dibuka seluas-luasnya dalam era otonomi daerah. Dalam penyusunan anggaran contohnya pemerintah berusaha turun kedesa dan kecamatan untuk mendengarkan aspirasi secara langsung. Harusnya ini dapat dimanfaatkan masyarakat desa untuk menyampaikan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat di desanya.

Menjalankan berbagai solusi diatas tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh banyak dukungan untuk menjalankannya, terutama yang paling ditunggu adalah kebijaksanaan pemerintah. Didukung dengan budaya masyarakat bergotong royong membangun perekonomian bersama, mungkin urbanisasi tidak akan menjadi ancaman bagi negara ini.

 


Nur Rochman

17108340

1KA26

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: