h1

KARIKATUR PENDIDIKAN

April 5, 2010

Sebuah karikatur adalah gambar yang unik dan dapat menyampaikan berbagai macam pesan walaupun itu hanya sebuah gambar. Dan dari karikatur di atas dapat dilihat sebuah gambar yang sangat mengerikan, dimana seorang ayah ingin bunuh diri karena lahannya digusur untuk proyek bijih besi. Padahal mungkin lahan tersebut adalah tempat dia dan keluarga untuk berusaha agar bisa bertahan hidup. Untuk pengusaha yang punya banyak uang memang tidak sulit untuk membeli tanah di sana-sini tapi setidaknya mereka juga harus memikirkan resiko yang diderita oleh korban.

Banyak sekali perubahan yang telah dihadapi oleh bangsa ini, tapi apakah perubahan itu membuat rakyat menjadi nyaman?mungkin sebagian nyaman tapi tidak semuanya merasa seperti itu, saat diberlakukannya conversi dari minyak tanah ke gas elpiji, banyak kontroversi yang timbul akibat kebijakan ini. Bagi kalangan bawah yang terbiasa dengan menggunakan minyak tanah akan sedikit ragu karena alasan keamanan dan harganya juga belum terjangkau. Lalu harga minyak tanah naik sangat drastis karena persediaan di pasaran juga sudah langka, hal ini menjadi pukulan dan beban yang sangat berat bagi para pengguna minyak tanah. Mungkin mereka berpikir dengan berkurangnya persediaan minyak tanah maka rakyat akan segera beralih ke gas elpiji, berarti tidak ada pilihan lain. Mereka dengan terpaksa menggunakan gas elpiji, bahkan bagi yang tidak mampu mereka terpaksa menggunakan kayu bakar.

Semua pesan dari masyarakat tidak pernah di dengar, mereka hanya memikirkan keuntungan. Berbagai macam usaha telah di lakukan untuk mengingatkan, meminta kebijakan yang lebih baik, tapi tidak pernah ada artinya. Semua yang telah di lakukan seperti pesan dalam botol yang tidak pernah dibuka sehingga tidak pernah tersampaikan. Pada gambar diatas dapat di lihat, sekeras apapun orang tersebut berteriak maka tidak akan pernah terdengar karena dia berada dalam botol yang tertutup. Pesan ini harusnya di buka dan segera diselesaikan bersama dan tidak mengambil keputusan sepihak sehingga tidak ada pihak-pihak yang merasa dirugikan.

Nur Rochman

17108340

3KA17

h1

KORUPSI, KOLUSI DAN NEPOTISME

Maret 9, 2010

Perilaku korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) merupakan penyakit social, dan penyakit mental manusia. Untuk menciptakan penyelenggarakan Negara yang bersih dan berwibawa, perilaku korupsi, kolusi dan nepotisme harus diberantas sampai akar-akarnya. Perilaku KKN di Negara kita, telah merambah dalam segala aspek kehidupan baik dalam lingkungan pemerintah negara dari pejabat tinggi sampai pejabat rendah, dan tidak ketinggalan pula di lingkungan pejabat swasta telah terjangkit adanya penyakit KKN. Untuk memberantas penyakit KKN pemerintah telah mengeluarkan suatu undang-undang, yaitu undang-undang nomor 28 tahun 1999 tentang penyelenggaraan Negara yang bersih dan bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme.

Korupsi berasal dari kata korup (corruption), yang berarti jahat, busuk, atau mudah disuap. Dengan demikian yang dimaksud korupsi adalah perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau kelompok orang (koperasi), dilakukan dengan cara-cara yang melanggar hukum, yang dapat merugikan keuangan Negara atau perekonomian Negara. Adapun yang termasuk perbuatan yang dilakukan dengan cara-cara melanggar hukum ialah : penyalahgunaan wewenang, pemotongan, imbalan atau pungutan terhadap pelayanan, pemerasan, pemberian fasilitas, penggelapan uang retribusi, penggelapan pajak, sumbangan yang memaksa, backing, dan pengumpulan dana yang berkedok yayasan dan kegiatan social.

Kolusi atau kolusif  (collusive), yang berarti rahasia, dengan diam-diam atau tidak terbuka. Kolusi adalah pemufakatan atau kerjasama secara melawan hukum antar penyelenggara Negara atau antara penyelenggara Negara dan pihak lain yang merugikan orang lain, masyarakat dan atau Negara.

Nepotisme (nepotism) berarti memberi jabatan kepada saudara-saudara, teman-teman atau kroninya. Nepotisme adalah setiap kegiatan penyelenggara Negara secara melawan hukum yang menguntungkan keluarganya dan atau kroninya diatas kepentingan masyarakat, bangsa dan Negara. Nepotisme ini dapat terjadi dalam menerima tenaga kerja, bahwa peserta yang melamar pekerjaan dan ikut tes pada salah satu kantor cukup banyak, akan tetapi yang dapat diterima menjadi pegawai adalah orang yang ada hubungan famili atau teman dari pejabat dari kantor tersebut dengan tidak memperhatikan kompetensi yang dimiliki. Nepotisme ini dapat terjadi karena masih kuatnya budaya kekerabatan bangsa kita, adanya kurang memperhatikan kompetensi sebagai peningkatan sumber daya manusia.

Perilaku korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) adalah perilaku yang dapat merusak kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Perilaku korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) juga merusak segala aspek kehidupan manusia, yaitu merusak tatanan hukum, tatanan politik, tatanan ekonomi, tatanan social dan budaya. Dengan adanya perilaku KKN sistem hukum tidak lagi berdasarkan prinsip keadilan. Dalam bidang politik adanya perilaku pembodohan terhadap masyarakat. Dalam bidang ekonomi adanya biaya hidup yang tinggi serta adanya pengabaian terhadap norma-norma kehidupan masyarakat.

Perilaku korupsi, kolusi dan nepotisme dapat terjadi karena adanya, sebagian orang hanya memikirkan sesaat, merebaknya paham materialisme, dan meningkatnya sikap hidunisme, serta lemahnya iman dan kurangnya kesadaran hukum.

Nur Rochman

17108340

3KA17

h1

Seni Terapan Nusantara

Maret 9, 2010

Seni terapan nusantara merupakan ragam seni rupa yang berkembang disetiap daerah yang tersebar diseluruh nusantara. Ragam seni rupa tersebut lahir dari ekspresi gagasan atau perasaan kreatifitas manusia Indonesia yang mempunyai nilai-nilai budaya nusantara. Nilai-nilai budaya tersebut terekspresi melalui pola kelakuan yang menghasilkan karya seni yang dapat digunakan bagi kehidupan manusia dan bersifat estetis.

Diantara ragam seni rupa nusantara tersebut salah satunya merupakan seni terapan yang berkembang disetiap wilayah nusantara dengan cirri khas masing-masing. Ekspresi seni terapan di nusantara sangat beragam karena berkembang sesuai dengan kebudayaan masyarakat daerah tertentu. Perbedaan tersebut mencakup jenis dan bentuk yang tidak semata-mata bertalian dengan pemenuhan kebutuhan sehari-hari saja, tetapi juga berkaitan dengan kebutuhan estetis. Namun perbedaan kebudayaan daerah tersebut merupakan kekayaan budaya nusantara itu sendiri. Karena itu mempelajari hasil karya seni terapan nusantara dapat memperkaya citra budaya nasional.

Adapun karya seni terapan nusantara sesuai dengan objek seni terapan daerah setempat, yaitu berupa bentuk manusia, binatang, tumbuhan, geometris, alam benda dan lain-lain. Baik berwujud 2 dimensi (dwi matra) maupun 3 dimensi (tri matra), hal yang membedakan bentuk karya seni terapan itu adalah corak perwujudan fisiknya dapat naturalis, stilasi maupun abstrak.

Yang digolongkan karya seni terapan nusantara adalah semu8a karya design interior (dalam ruangan), design eksterior (luar ruangan), grafis (mencetak), design komunikasi visual (reklame), design produk (produksi pabrik), design arsitektur (rumah, rumah ibadah, gedung dan lain-lain). Termasuk juga karya seni kriya/ kerajinan (handycraft): kerajinan keramik, gerabah, meubelair dan lain-lain.

Teknik pembuatan karya seni terapan nusantara sama seperti seni terapan daerah setempat, karena asalnya dari daerah setempat yang tergabung dalam seni terapan nusantara, adapun teknik pembuatan karya seni terapan nusantara meliputi teknik grafis, teknik tutup-celup, teknik membutsir, memahat, membentuk dan teknik design. Sesdangkan fungsinya seperti yang sudah diterangkan diatas karya seni terapan nusantara yaitu sebagai pemenuhan kebutuhan akan benda pakai (segi praktis) dan juga pemenuhan kebutuhan keindahan (segi estetis).

Untuk makna atau arti dari karya seni terapan nusantara antara setiap daerah berbada satu sama lainnya. Karena karya seni tersebut merupakan symbol dari masyarakat penciptanya yang sesuai dengan nilai-nilai budaya yang berkembang dalam masyarakat tersebut.

Karya seni terapan nusantara mulai diciptakan zaman prasejarah untuk berbagai tujuan, diantaranya sebagai alat pemujaan bagi roh nenek moyangnya, permohonan akan sesuatu dan lain-lain. Oleh karena itu karya seni tersebut penuh dengan symbol-simbol yang mengandung makna tertentu yang berkaitan dengan kepercayaan mereka. Pada zaman sebelum agama-agama masuk ke Indonesia paling tidak dianggap sebagai karya seni terapan yang digunakan sebagai alat pemuja terutama bagi mereka yang menganut paham animisme dan dinamisme.


Nur Rochman

17108340

3KA17

h1

Perkembangan Pemerintahan di Indonesia pada Masa Kolonial

Maret 9, 2010

Di Indonesia, sebelum kedatangan bangsa Barat, telah berdiri kerajaan-kerajaan islam. Kerajaan tersebut merupakan pusat-pusat perdagangan yang ramai. Kerajaan-kerajaan itu adalah Samudera Pasai, Aceh, Demak, Banten, Cirebon, Banjar, Makasar, Ternate dan Tidore. Selain itu juga terdapat kota-kota dagang seperti Pasai, Pedir, Barus, Tiku, Pariaman, Palembang, Jambi, Yogyakarta, Jepara, Tuban, Gresik, Pasuruan dan Hitu.

Di ibukota kerajaan terdapat golongan raja dan bangsawan yang tinggal di istana. Pada umumnya raja bergelar sultan. Tapi di daerah-daerah tertentu ada yang menyebutnya sunan, karaeng, arung batara, kolano. Adat kehidupan kerajaan-kerajaan tersebut bersifat istana sentris yaitu kehidupan di istana sebagai pusat kehidupan masyarakat. Kadang-kadang juga disebut feodalisme, yaitu tata cara kehidupan keraton yang dimuliakan.

Struktur kekuasaan feodal menunjukkan hierarki yang mengerucut dengan kekuasaan uncak dipegang oleh seoang raja, yang mempunyai pengaruh di wilayah di mana raja-raja kecil sebagai bagiannya. Selanjutnya masing-masing raja kecil tersebut mempunyai bagian-bagian yang lebih kecil lagi dan seterusnya. Upeti mengalir ke atas, sedangkan raja memberi perlindungan kepada bawahannya.

Setelah masa kolonial, di anatara Portugis, Inggris dan Belanda, maka Belandalah yang banyak sekali meninggalkan warisan politik pemerintahan di Indonesia. Alasannya Belanda paling lama berkuasa di Indonesia.

Pada awal pemerintah kolonial tidak banyak mencampuri perkembangan pemrintahan kerajaan-kerajaan di Indonesia. Pada dasarnya mereka menganggap bahwa kepentingan kolonialisme dan imperialisme barat merupakan kepentingan ekonomi. Kepentingan politik baru terpikir oleh Belanda sejak berakhirnya perang di Jawa (Perang Diponegoro). Sejak itu Belanda serius mendirikan pemerintahan Nederland Indie (Hindia Belanda), dengan membentuk pemerintahan pusat, provinsi atau wilayah otonom dan hukum, kekuasaan tertinggi Nederland Indie (Hindia Belanda) dipegang oleh gubernur jendral.

Organisasi pemerintahan yang dibentuk Belanda itu menjadi model (Prototipe) bagi organisasi pemerintahan Indonesia sekarang ini. Lembaga-lembaga Negara di Indonesia, tidak jauh berbeda dengan lembaga negara pada era Nederlands Indie (Hindia Belanda).

Nur Rochman

17108340

3KA17

h1

Negara Kesatuan (unitaris)

Maret 4, 2010

Bentuk negara menyatakan struktur organisasi sebagai suatu keseluruhan yang meliputi semua unsurnya atau negara dalam wujudnya sebagai suatu organisasi. Negara kesatuan (unitaris) adalah negara yang bersusun tunggal, dimana pemerintahan pusat memegang kekuasaan untuk menjalankan urusan pemerintahan dari pusat hingga daerah.bersusun tunggal berarti dalam negara hanya ada satu negara, satu pemerintahan, satu kepala negara, satu undang-undang dasar dan satu lembaga legislatif. Bentuk negara kesatuan merupakan bentuk negara yang sederhana tetapi dapat menghasilkan negara yang kuat karena hanya terdapat satu pemerintahan yang berdaulat ke dalam dan keluar. Sisi negatifnya, dikhawatirkan bentuk negara ini menimbulkan pemusatan kekuasan yang birokratis sehingga dapat menghambat kelancaran urusan pemerintahan. Keburukan itu dapat dihilangkan apabila pelaksana kekuasaan negara memiliki kontrol yang tinggi terhadap diri sendiri (moral) dan ada kontrol dari rakyat melalui melalui lembaga yang berwenang.

a. Negara kesatuan sistem sentralisasi

Negara kesatuan sistem sentralisasi adalah bentuk negara dimana pemerintahan pusat memiliki kedaulatan penuh untuk menyelenggarakan urusan pemerintah dari pusat hingga daerah, termasuk segala hal yang menyangkut urusan pemerintahan daerah. Pemerintah daerah hanya bersifat pasif dan menjalankan perintrah dari pemerintah pusat. Singkatnya pemerintah daerah hanya sebagai pekaksana belaka. Contoh negara yang menerapkannya adalah jerman pada masa hitler

1. Kebaikan negara kesatuan sistem sentralisasi adalah :

–          Terdapat keseragaman hukum di seluruh wilayah negara

–          Pemerintahan mengurus langsung semua urusan sampai ke daerah

–          Tidak membutukan biaya yang besar

2. Kelemahan negara kesatuan sistem sentralisasi adalah :

–          Bertumpuknya pekerjaan pemerintah pusat yang dapat menghambat proses pelaksanaan pembangunan

–          Rakyak akan bersifat apatis dan tidak mempunyai tanggung jawab dalam pelaksanaan pembangunan di daerahnya

–          Peraturan yang dibuat pemerintah pusat sering tidak sesuai dengan kebutuhan daerah

b. Negara kesatuan sistem desentralisasi

Negara kesatuan sistem desentralisasi adalah bentuk negara dimana pemerintahan pusat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam negara memberikan sebagian kekuasaannya kepada daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Keikut sertaan daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri di sebut hak otonom.

Dalam sistem pemerintahan ini daerah membuat peraturan yang sesuai dengan kondisi daerahnya, asal peraturan itu tidak bertentangan dengan peraturan diatasnya. Pemerintah pusat tidak lagi memegang kekuasaan seluruh urusan pemerintahan, melainkan hanya urusan urusan pokok saja, seperti urusan pemerintahan umum, politik, keuangan dan hubungan luar negeri. Contoh negara yang menerapkan sistem ini adalah indonesia.

1. Kebaikan dari negara kesatuan kesatuan dengan sistem desentralisasi adalah :

–          Pemerintah daerah dapat membuat peraturan yang sesuai dengan situasi dan kondisi daerahnya

–          Karena peraturan sesuai kondisi dan keadaan daerahnya maka rakyat dapat berperan secara aktif dalam pembangunan untuk memajukan daerahnya

2. Kelemahan negara kesatuan dengan sistem desentralisasi adalah :

–          Tidak adanya keseragaman peraturan di seluruh wilayah negara

Sistem ini membutuhkan biaya yang besar

Nama : Nur Rochman

Npm : 17108340

h1

Modernisasi dan urbanisasi

Maret 4, 2010

Modernisasi dapat menimbulkan perubahan-perubahan baik di desa ataupun di kota. Industrialisasi yang pertumbuhannya semakin cepat terutama di kota-kota besar berdampak pada tingginya urbanisasi.

1. Dampak perkembangan industri di kota.

Dampak berkembangnya industri-industri di kota-kota besar adalah sebagai berikut :

–          Kota menjadi pusat industri

–          Kota menjadi pusat perdagagangan hasil industri.

–          Di kota tumbuh berbagai jenis pertokoan yang dapat menyerap tenaga kerja

–          Di kota tumbuh pusat hiburan yang penuh dengan keramaian

2. Dampak perkembangan industri bagi masyarakat desa

Karena pengaruh teknologi informasi dan transportasi yang semakin lancar dan canggih, maka jarak desa dan kota semakin dekat. Hal ini mengakibatkan desa mengalami perubahan-perubahan seperti berikut

–          Dengan adanya koran masuk desa atau televisi yang menayangkan berbagai macam informasi terjadi perubahan pola pikir dan pola perilaku

–          Terjadi pula perubahan pola hidup masyarakat di desa

Oleh karena itu proses perkembangan di desa bila dibandingkan di kota lambat, maka timbul masalah baru, yaitu kesenjangan sosial  antara kota dan desa. Dan hal ini berakibat pada tumbuhnya urbanisasi

3. Penyebab terjadinya urbanisasi

Beberapa penyebab terjadinya urbanisasi sebagai berikut :

–          Adanya daya tarik kota antara lain seperti berikut :

a. Daya tarik ekonomi

Di kota orang berharap untuk dapat dengan mudah mendapatkan pekerjaan. Hal itu menjadi satu keharusan untuk mengubah nasib.

b. Daya tarik sosial

Kebanyakan orang pergi ke kota untuk mengubah status sosial melalui berbagai macam cara seperti pendidikan atau pekerjaan. Misalnya yang tainya di desa sebagai petani pindah ke kota menjadi pegawai negeri atau  karyawan swasta.

c. Daya tarik pendidikan

Di kota tersedia berbagai macam fasilitas pendidikan. Bagi orang desa yang ingin menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi, mereka akan berupaya menyekolahkannya di kota. Tentunya dengan harapan agar setelah berhasi l menempuh pendidikan yang lebih tinggi, ia mendapatkan pekerjaan yang sesuai di kota dan secara otomatis ia dapat menaikkan status sosial keluarganya

–          Adanya faktor pendoronga penduduk desa untuk berurbanisasi adalah sebagai berikut :

a. Lapangan pekerjaan yang tersedia di desa sangat kurang atau terbatas bila di bandingkan dengan pertumbuhan penduduknya sehingga menimbulkan pengangguran tersamar. Untuk itu mereka berbondong-bondong menuju kota

b. Penduduk desa terutama kaum mudanya merasa tertekan oleh adat istiadat yang ketat yang menimbulkan cara hidup yang monoton.

c. Penduduk desa tidak memiliki banyak kesempatan untuk memperoleh pengetahuan sehingga mereka beramai-ramai ke kota

d. Di desa tempat rekreasi sulit di peroleh

4. Masalah yang timbul akibat urbanisasi

Dengan adanya urbanisasi maka penduduk kota semakin bertambah. Dengan begitu timbullah permasalahan baru baik di desa atau pun di kota antara lain sebagai berikut :\

–          Semakin berkurangnya penduduk desa

–          Banyak sawah yang terbengkalai

–          Hasil panen yang menurun

–          Muncul pengangguran di kota

–          Kriminalitas dan perilaku menyimpang lainnya meningkat di kota.

5. Upaya menahan laju urbanisasi.

Upaya untuk menahan laju urbanisasi antara lain sebagai berikut :

–          Meningkatkan pembangunan di desa misalnya di bidang pertanian

–          Membangun tempat kursus dan balai pelatihan di desa

–          Meningkatkan arus informasi dan sarana transportasi sehingga berita-berita aktual bisa cepat di terima

–          Memperhatikan kesinambungan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi agar sejalan dengan perkembangan iman dengan meningkatkan pendidikan agama.

Nama : Nur Rochman

Npm : 17108340

h1

Mobilitas Sosial

Maret 3, 2010

Mobilitas sosial bukan merupakan kenyataan yang begitu saja terjadi. Suatu gerak terjadi karena ada penggerak. Begitu pula dengan mobilitas sosial. Perpindahan antar status sosial dapat terjadi kalau status sosial tinggi yang dituju memang ada, masih menyediakan ruang untuk di isi dan mudah diperoleh. Seorang lurah misalnya, tidak mungkin mengangkat status sosialnya menjadi tumenggung karena status sosial itu memang tidak ada dalam kelompok sosialnya. Lalu sekelompok buruh tani tidak dapat beralih status sosial menjadi karyawan pabrik karena pabrik-pabrik sudah menutup penerimaan karyawan baru. Seorang pedagang asongan tidak sanggup mengangkat status sosialnya menjadi sarjana karena kesulitan biaya

1. Struktur pekerjaan

Dalam setiap masyarakat, terdapat sejumlah status sosial tinggi yang menyediakan serta yang harus di isi. Jumlah itu berbeda antara masyarakat yang satu dengan yang lain. Perbedaan itu tampak pada pembagian lapangan kerja yang tersedia.

Masyarakat yang mengandalkan kehidupan ekonominya pada bidang pertanian dan bahan baku cenderung memperluas lapangan kerja di tingkat bawah dan membatasi lapangan kerja di tingkat menengah dan atas. Masyarakat seperti ini akan memiliki banyak status sosial rendah dan sedikit status sosial atas. Akibatnya, kemungkinan seorang pegawai rendahan meningkat status sosialnya menjadi kecil sekali. Ia hanya mungkin beralih status sosisal dalam lapisan sosial yang sama, misalnya dari buruh tani menjadi buruh perkebunan ataupun buruh tambang. Itulah sebabnya mobilitas masyarakat agraris cenderung rendah.

Sebaliknya, masyarakat yang mengandalkan kehidupan ekonominya pada industri cenderung memperluas lapangan kerja di tingkat menengah dan atas. Perkembangan industri ditandai dengan perkembangan teknologi sehingga membutuhkan tenaga kerja yang handal. Terbuka kesempatan untuk bekerja di tingkat menengah dan atas memacu warga masyarakat untuk meningkatkan status sosialnya. Statistik negara industri memperlihatkan penurunan jumlah orang yang bekerja di tingkat buruh dan peningkatan jumlah orang yang bekerja di tingkat profesional. Itulah sebabnya mobilitas sosial dalam masyarakat industri cenderung tinggi.

2. Perbedaan tingkat kelahiran

Tingkat kelahiran pada masyarakat berstatus sosial rendah umumnya lebih tinggi di bandingkan  dengan tingkat kelahiran pada masyarakat berstatus sosial menengah keatas. Kenyataan tersebut dapat kita lihat dari perbedaan tingkat kelahiran yang menyolok antara desa dan kota atau antara masyarakat agraris dan industri. Perbedaan tingkat kelahiran ini akan memacu mobilitas sosial, berupa gejala warga masyarakat dari status sosial rendah mencari kerja di tingkat menengah sampai atas.

Terjadinya mobilitas sosial itu dapat di terangkan sebagai berikut. Berkat kemajuan ilmu dan teknologi, pertambahan dan perluasan lapangan kerja ditingkat status sosisal menengah ke atas semakin meningkat. Cobalah jika kita perhatikan halaman surat kabar yang melampirkan iklan buka lamaran pekerjaan dari berbagai perusahaan! Ada banyak sekali, padahal tingkat kelahiran pada masyarakat berstatus sosial menengah sampai ke atas relatif rendah dibandingkan masyarakat yang berstatus sosial rendah. Dan akibatnya ada kekosongan di tingkat menengah sampai keatas yang harus di isi. Kekosongan itu di isi oleh warga masyarakat dari lapisan bawah sehingga status sosial mereka pun turut terangkat. Maka jadilah mobilitas sosial.

Nama : Nur Rochman

Npm : 17108340